
Wednesday, 29 October 2014

Kaki yang patah tak menghalanginnya ke Mesjid
Selepas Sholat Dzuhur di Mesjid Laode Malim, depan fakultas Teknik.
Saya bergegas turun dari Lantai 2. Mesjid ini terdiri atas tiga lantai, dimana shaf laki-laki berada di lantai 2.
Saat menuruni anak tangga. Masya Allah, saya terkagum-kagum atas apa
yang kusaksikan di depan mata kepala sendiri. Seorang bapak, berprawakan
agak kurus, dengan kemeja jeans dan celana kain biru, menuruni satu per
satu anak tangga ini dengan tertatih-tatih.
Sungguh penuh perjuangan, kulihat kakinya yang kanan ia papah dengan sangat. Pincang. Mungkin akibat patah.
Hari ini Allah menampakkan tegurannya padaku. Pada diri yang selalu merasa yang telah bersungguh-sungguh melakukan ibadah. Tapi lihatlah, perjuangan seorang di depan matamu. Seketika itu, perasaan ini menjadi malu.
-- - --- --- -- --
Wahai Dzat yang melihat isi hati kecil dan mendengarnya
Engkau pengatur segala harapan
Wahai Dzat yang diminta ketika musibah melanda
Wahai Dzat tempat mengadu dan bersandar manusia
Aku tak punya apapun kecuali butuh kepada-Mu
Hanya dengan meminta-Mu, hajatku terpenuhi
Aku tak punya apa pun kecuali mengetuk pintu-Mu
Jika kau tolak, pintu siapa yang akan kudatangi
Demi Dzat yang dengan nama-Nya kupanjatkan Doa dan keluh
Jika kemurahan-Mu tak sampai kepada hamba yang fakir ini
Mohon jauhkanlah diri ini dari kedurhakaan
Kemurahan sungguh besar dan karunia amatlah luas
-----
Kendari, 29/10/2014
Sungguh penuh perjuangan, kulihat kakinya yang kanan ia papah dengan sangat. Pincang. Mungkin akibat patah.
Hari ini Allah menampakkan tegurannya padaku. Pada diri yang selalu merasa yang telah bersungguh-sungguh melakukan ibadah. Tapi lihatlah, perjuangan seorang di depan matamu. Seketika itu, perasaan ini menjadi malu.
-- - --- --- -- --
Wahai Dzat yang melihat isi hati kecil dan mendengarnya
Engkau pengatur segala harapan
Wahai Dzat yang diminta ketika musibah melanda
Wahai Dzat tempat mengadu dan bersandar manusia
Aku tak punya apapun kecuali butuh kepada-Mu
Hanya dengan meminta-Mu, hajatku terpenuhi
Aku tak punya apa pun kecuali mengetuk pintu-Mu
Jika kau tolak, pintu siapa yang akan kudatangi
Demi Dzat yang dengan nama-Nya kupanjatkan Doa dan keluh
Jika kemurahan-Mu tak sampai kepada hamba yang fakir ini
Mohon jauhkanlah diri ini dari kedurhakaan
Kemurahan sungguh besar dan karunia amatlah luas
-----
Kendari, 29/10/2014
Monday, 20 October 2014
Wednesday, 8 October 2014

Tentang masa lalu : salam untuk sang fajar
Malam ini saya belajar lagi satu hal dari tulisan yang sangat inspiratif
Apa itu?
“MASA LALU”
Yup, tentang masa lalu. Kebanyakan kita justru merasa terhambat dengan mengingat-ingat tentang masa lalu. Saya pribadi sepakat jika ada yang mengatakan bahwa kita bisa belajar dari masa lalu. Telah berlalu waktu yang panjang di waktu lampau, sehingga terukir banyak kisah dan pengalaman darinya.
Lalu apa yang menghambat dari masa lalu?
Adalah kita seringkali memikirkan kegagalan demi kegagalan dari masa lalu atau sesuatu hal dari masa lalu yang membuat kita seakan ingin berhenti melangkah. Masa lalu tetap akan ada bagaimanapun kita sekarang, adalah hal yang penting saat ini justru bagaimana kita menyikapinya.
Saya ingin sekali mengutip puisi yang indah yang pernah ditulis oleh Kalidasa, seorang aktor India:
Salam buat Sang Fajar.
Lihatlah hari ini.
Sebab ia adalah kehidupan, kehidupan dari kehidupan.
Dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu.
Nikmat pertumbuhan.
Pekerjaan yang indah.
Indahnya kemenangan.
Karena hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi.
Dan esok hari hanyalah bayangan.
Namun hari ini ketika Anda hidup sempurna,
telah membuat hari kemarin sebagai impian yang indah.
Setiap hari esok adalah bayangan yang penuh harapan.
Maka lihatlah hari ini
Inilah salam untuk sang fajar.
Dari puisi diatas kita bisa belajar satu hal : Fokus pada apa yang kita hadapi hari ini.
Kita hidup hari ini, bukan kemarin ataupun esok hari yang ghaib. Bagaimana kita hari ini, justru bisa membuat masa lalu menjadi kenangan yang indah.
Saya pernah menghadiri suatu seminar tentang kesuksesan. Tentu yang menjadi pembicara di seminar tersebut adalah mereka yang berhasil meraih impiannya. Salah seorang pembicara ditanyai oleh peserta,
“Bagaimana masa lalu Anda, sehingga membuat Anda sesukses ini.”
Lalu yang ditanya membalikkan badannya dan membelakangi si penanya kemudian berbalik lagi sambil berkata
“Maaf, sekarang saya lagi fokus dengan masa depan, masa lalu itu sudah jauh sekali di belakang”
Kami pun tersenyum.
Thursday, 18 September 2014

Belajar dengan Konsep Alur Mundur
![]() |
| Belajar terus via ibrahimradio |
Bisa jadi konsep ini berlaku terhadap apa yang ada pelajari saat ini yang tentu berbeda dengan yang penulis pelajari, akan tetapi bisa jadi tidak cocok buat anda yang lain.
Namun, tidak ada salahnya kan mengetahui konsep ini?
Kita mulai. Belajar dengan konsep alur mundur, secara singkat saya jelaskan seperti ini.
Dalam ilmu manapun kita akan mengenal tingkatan-tingkatan kemampuan, artinya kita tidak mungkin melanjutkan ke tingkatan kedua, misalnya, sebelum kita melalui tingkatan pertama.
Benar?
Nah dengan konsep alur mundur ini, kita mempelajari secara nekat satu tingkat diatas tngkatan kemampuan kita saat ini. Dan itu akan “memaksa” kita untuk mau tidak mau mempercepat belajar di tingkatan kita saat ini.
Saya berikan contoh, karena saya mahasiswa IT maka tidak jauh-jauh dari pembahasan seputar dunia IT.
Contoh kasus:
Pernahkah anda mengalami, pergi ke warkop atau area yang memiliki wifi area?. Anda sedang asyiknya browsing, tetapi tiba-tiba kecepatan internet anda menurun dengan drastis. Bisa jadi koneksi anda sedang dicut oleh pengguna wifi yang lain. Sehingga bandwith internet anda terputus.
Itu juga yang dialami si A, misalnya. Akhirnya dia mempelajari bagaimana agar tidak dicut oleh orang lain dan sekalian bagaimana cara membalas serangan tersebut.
Mudah rupanya setelah membaca tutorial yang ada di internet. Cukup menggunakan tools, klik sini klik sana, selesai. Tapi nyatanya cara tersebut tidak efektif, kenapa?. Karena orang lain pun bisa menggunakan tools yang sejenis bukan?
Maka mulai dia mempelajari pada tingkatan yang lebih advance (lanjutan) tetapi sayangnya dia tidak memilik pengetahuan basic (dasar), agar proses belajarnya semakin cepat, dia akhirnya mempercepat pelajaran di tingkatan basic agar segera berada di tingkatan advance.
The Power of Kepepet and The power of Nekat.
Itu kuncinya.
Semoga tulisan ini bermanfaat sehingga anda mau membagikan tulisan ini ke orang terdekat anda.
-
-
Oh iya, si A akhirnya sampai pada tingkatan advance, tidak bermasalah lagi dengan koneksi wifi dimanapun dia mengaksesnya
hehehe
Thursday, 24 July 2014

Tabel Perhitungan Zakat
Berikut kami lampirkan berkas pdf "Tabel Perhitungan Zakat"
https://drive.google.com/file/d/0B3PhOg7hgpaHRXJTWnFkNHdJRVE/edit?usp=sharing
Semoga bermanfaat
Tamborasi, 25/7/2014
https://drive.google.com/file/d/0B3PhOg7hgpaHRXJTWnFkNHdJRVE/edit?usp=sharing
Semoga bermanfaat
Tamborasi, 25/7/2014
Thursday, 3 July 2014

Tutorial LiveStreaming di Slackware 14.1 menggunakan HP China Murah Meriah
Sebelumnya silahkan membaca tutorial lengkapnya disini.
![]() |
Pada tulisan ini saya mengkhususkan pembahasan khusus pengguna Slackware, tapi pada intinya sama saja buat semua distro.
Nah buat teman-teman pengguna Slackware.
Persiapan
1. Hp China
2. Kabel data
3. Komputer yang pakai Linux Slackware 14.1
4. Aplikasi FFMPEG
Instalasi FFMPEG
Download dependensi FFMPEG berikut :
x264 disini
Lame disini
Lakukan Instalasi pada kedua dependensi diatas menggunakan Script Slackbuild
Setelah selesai
Download FFMPEG disini beserta Script Slackbuildnya disini
Lalu lakukan instalasi.
Selebihnya ikuti tutorial pada link diatas
Terima kasih telah membaca. :
Note:
ffplay -f v4l2 -i /dev/video1 -s 1280x960
Monday, 30 June 2014

Masihkah kita pesimis akan Ampunan Allah?
Di Subuh hari ini menjelang pagi. Tulisan ini akan membawakan suatu tema yakni “Masihkah kita pesimis akan Ampunan Allah?”
Kadang kita dapati atau mungkin pada diri kita sendiri suatu sikap. Sikap yang dimana kita belum merasa yakin akan datangnya ampunan, belum merasa yakin akan luasnya ampunan dari Allah Azza wa jalla.
Kita sebagai manusia biasa pasti pernah melakukan kesalahan. Hendaknya kesalahan ini segera disusul dengan perbuatan baik dan berkomitmen untuk tidak lagi mengulainya.
Subhanallah, ampunan Allah begitu luas bagi siapa saja yang mau menghentikan kemaksiatan yang ia perbuat. Mari kita renungkan ayat berikut ini.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Az-Zumar: 53, yang artinya:
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Masihkah kita merasa pesimis akan datangnya ampunan Allah?
Masihkah kita pesimis dengan usia kita yang telah tua dan merasa sudah tidak bisa lagi memperbaiki kesalahan di masa lalu?
Ayat ini adalah salah satu sumber semangat untuk menjalani hidup ini.
Ayat ini, seakan dengan begitu lembutnya menerangkan kepada para hamba yang berbuat dosa, bahwa Allah selalu membukakan pintu-pintu taubat-Nya. Seolah, Allah dengan segala keagungan dan kemurahan-Nya memberi semangat pada setiap hamba yang berkubang dosa agar bangkit dari keterpurukan dan bergegas pulang kepada Allah, karena Allah telah menanti dengan segenap ampunan dan cinta-Nya yang tak berbatas. Hati siapa yang tak akan bergetar haru membaca ayat ini? Bagaikan pelita bagi para pendosa yang tersesat dalam gelapnya maksiat agar kembali menemukan jalan yang lurus, yang diridhoi oleh Allah.
Wahai saudaraku, ingatlah Ayat diatas. Allah Maha Mengampuni dosa-dosa seluruhnya.
Seluruhnya ya Akhi, dengan syarat kita tidak berputus asa akan rahmat Allah.
“Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran : 159)
Mudah-mudahan tulisan ini menjadi Nasihat, terutama pada diri penulis sendiri. Adapun kebenaran itu datangnya dari Allah Subhana wa ta'ala.
Kadang kita dapati atau mungkin pada diri kita sendiri suatu sikap. Sikap yang dimana kita belum merasa yakin akan datangnya ampunan, belum merasa yakin akan luasnya ampunan dari Allah Azza wa jalla.
Kita sebagai manusia biasa pasti pernah melakukan kesalahan. Hendaknya kesalahan ini segera disusul dengan perbuatan baik dan berkomitmen untuk tidak lagi mengulainya.
Subhanallah, ampunan Allah begitu luas bagi siapa saja yang mau menghentikan kemaksiatan yang ia perbuat. Mari kita renungkan ayat berikut ini.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Az-Zumar: 53, yang artinya:
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Masihkah kita merasa pesimis akan datangnya ampunan Allah?
Masihkah kita pesimis dengan usia kita yang telah tua dan merasa sudah tidak bisa lagi memperbaiki kesalahan di masa lalu?
Ayat ini adalah salah satu sumber semangat untuk menjalani hidup ini.
Ayat ini, seakan dengan begitu lembutnya menerangkan kepada para hamba yang berbuat dosa, bahwa Allah selalu membukakan pintu-pintu taubat-Nya. Seolah, Allah dengan segala keagungan dan kemurahan-Nya memberi semangat pada setiap hamba yang berkubang dosa agar bangkit dari keterpurukan dan bergegas pulang kepada Allah, karena Allah telah menanti dengan segenap ampunan dan cinta-Nya yang tak berbatas. Hati siapa yang tak akan bergetar haru membaca ayat ini? Bagaikan pelita bagi para pendosa yang tersesat dalam gelapnya maksiat agar kembali menemukan jalan yang lurus, yang diridhoi oleh Allah.
Wahai saudaraku, ingatlah Ayat diatas. Allah Maha Mengampuni dosa-dosa seluruhnya.
Seluruhnya ya Akhi, dengan syarat kita tidak berputus asa akan rahmat Allah.
“Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran : 159)
Mudah-mudahan tulisan ini menjadi Nasihat, terutama pada diri penulis sendiri. Adapun kebenaran itu datangnya dari Allah Subhana wa ta'ala.
Friday, 27 June 2014
Download Video dari Youtube dan Website lainnya menggunakan ClipGrab
ClipGrab adalah Aplikasi Download gratis dan konverter untuk YouTube, Vimeo, Metacafe, Dailymotion dan banyak situs video online lainnya.
Aplikasi ini mengkonversi video download ke MPEG4, MP3 atau format lain hanya dengan langkah yang sangat mudah.
Situs yang didukung:
Download paket tarball :
Kemudian Extract :
Berpindah pada direktori hasil Extract :
Ubah Hak akses:
Jalankan :
Selesai... :)
Selamat menikmati ..
Sumber referensi :
Pertama
Kedua
Aplikasi ini mengkonversi video download ke MPEG4, MP3 atau format lain hanya dengan langkah yang sangat mudah.
Situs yang didukung:
- Youtube
- Vimeo
- metacafe.com
- youku.com
- myspass.de
- myvideo.de
- clipfish.de
Tahap Instalasi
Download paket tarball :
wget http://download.clipgrab.de/clipgrab-3.4.2.tar.gz
Kemudian Extract :
tar xvf clipgrab-3.4.2.tar.gz
Berpindah pada direktori hasil Extract :
cd clipgrab-3.4.2
Ubah Hak akses:
chmod +x clipgrab-*
Jalankan :
./clipgrab-3.4.2.x86_64
Tampilan
Selesai... :)
Selamat menikmati ..
Sumber referensi :
Pertama
Kedua
Saturday, 21 June 2014

Rindu kampung halaman
Bersama terbenamnya matahari pada senja ini. Suara adzan Maghrib
mulai berkumandang. Kami anak kampung mulai berlarian tergesa masuk ke
kolong rumah. Ganti baju. Kebiasaan.
Kami anak kampung. Pun kadang tersebutlah kami anak pesisir. Sore menjadi ajang kami berlarian di pinggir pantai. Menendang ombak. Seakan kami menendang himpitan ekonomi keluarga kami.
Kami masih kecil, tak layak memusingkan hal yang sering para orang tua sembunyikan dari kami. Pun begitu, berkurangnya uang jajan, tak ada uang beli sepatu di setiap penerimaan Raport. Cukup membuat kami maklum, inilah ekonomi keluarga kami. Sulit.
Kami anak kampung. Pun kadang tersebutlah kami anak pesisir. Sore menjadi ajang kami berlarian di pinggir pantai. Menendang ombak. Seakan kami menendang himpitan ekonomi keluarga kami.
Kami masih kecil, tak layak memusingkan hal yang sering para orang tua sembunyikan dari kami. Pun begitu, berkurangnya uang jajan, tak ada uang beli sepatu di setiap penerimaan Raport. Cukup membuat kami maklum, inilah ekonomi keluarga kami. Sulit.
Sembari menghibur diri. Kami berlarian terus dan terus. Mendapati mata
air segar. Cara kami melupakan penat. Cukuplah menjadi cerita-cerita
nostalgia. Kadang sepulang sekolah, kami mesti membuka sepatu. Mengikat
kedua talinya lalu menggantungnya di leher kami.
Sementara kami?. Kami berjalan tidak pada jalan beraspal itu. Panas jika tanpa alas kaki. Kami memilih berjalan diantara rindangnya pohon coklat pada kebun-kebun penduduk. Sesekali bersiul, menggelakkan tawa.
--------
Tiada yang lebih nikmat bagi kami, anak kampung.
Kalaulah bukan karena jernihnya air pada mata air.
Kalaulah bukan sinar senja dipinggir pantai, pun berdampingan dengan desiran ombak teluk bone.
Niscaya kerinduanku pada kampung halaman seakan mulai sirna. Bak meredupnya sinar senja berganti malam.
-----
Tamborasi...
Sementara kami?. Kami berjalan tidak pada jalan beraspal itu. Panas jika tanpa alas kaki. Kami memilih berjalan diantara rindangnya pohon coklat pada kebun-kebun penduduk. Sesekali bersiul, menggelakkan tawa.
--------
Tiada yang lebih nikmat bagi kami, anak kampung.
Kalaulah bukan karena jernihnya air pada mata air.
Kalaulah bukan sinar senja dipinggir pantai, pun berdampingan dengan desiran ombak teluk bone.
Niscaya kerinduanku pada kampung halaman seakan mulai sirna. Bak meredupnya sinar senja berganti malam.
-----
Tamborasi...
Monday, 16 June 2014

Hobiku (sempat) dilarang Orang Tua.
Pertengahan Tahun 2012
***
“Nak minggu depan kamu pulang saja ke kampung, berhenti kuliah.!!!!”
Malam itu Ayah menelponku, dengan suara yang tidak biasanya. Meninggi. Dengan gusar aku diam mendengarkan memberi kesempatan pada ayah berbicara. Meski saat itu aku belum paham apa salahku. Hingga beliau akhirnya terdiam dan sejurus kemudian, sambungan telpon itu terputus. Beliau mematikan Hpnya diseberang tanpa sedikitpun memberikanku kesempatan walau hanya untuk sekedar bertanya.
Selang beberapa hari kemudian aku pun tahu akar permasalahannya. Salah paham, begitulah. Belakang selepas aku tamat dari SMA dan kemudian melanjutkan studiku di perguruan tinggi. Ada satu hobi baru yang muncul. Hobi yang mungkin membuat orang tua cemas bukan kepalang.
Ngoprek sampai tengah malam.
Apa itu ngoprek?
Ngoprek itu, simpelnya adalah mengutak-atik teknologi. Yah, begitulah karena aku diterima kuliah pada Fakultas Teknik Informatika. Maka hobi baruku untuk ngoprek berbagai macam perangkat keras terutama Komputer atau Laptop sukses menyita semua waktuku. Ada keasyikan tersendiri. Waktu pun kadang tak terasa berlalu begitu saja ketika Ngoprek.
Lah, kenapa sampai “dimarahi” ortu? Bukankah ngoprek itu bermanfaat?
Ayo kita lanjut baca ceritaku.
Seperti yang kujelaskan sebelumnya bahwa dengan ngoprek kadang waktu tak terasa berlalu begitu saja. Maka timbul kebiasaanku. Ngoprek sampai pagi, bukan kadang lagi. Sering suara Adzan subuh yang mengingatkanku akan tibanya waktu pagi.
Sayangnya kegiatan Ngoprek itu sering tidak kulakukan di rumah. Jadi bukan hal yang aneh, jam 2 atau 3 malam aku baru pulang.
Hmm.. Disinilah biang masalahnya. Orang tua ada di kampung, sementara aku disini merantau. Entah siapa memberikan informasi salah kepada Ayah sehingga beliau mengira, aku bergaul dengan orang “tidak-tidak”.
Ternyata orang tua di kampung, mengira aku bergaul dengan semacam genk-genk motor yang lagi marak di kota. Tapi setelah kujelaskan dengan baik-baik. Akhirnya Ayah terutama Ibu maklum dengan hobiku ini.
Hanya, beliau berdua menasihatkan jangan terlalu larut, jaga kesehatan.
Dan tambah Ibu juga,
“Tengah malam, kamu habiskan saja untuk tahajjud, itu waktu yang baik”
'
'
'
"3rd Giveaway : Tanakita - Hobi dan Keluarga".
Wednesday, 11 June 2014

Ibu-ibu petugas kebersihan di Kampus
Ini ceritaku untuk Ibu-ibu petugas kebersihan di Kampus :)
-------------------------------------------------------------------------
Jalan masih sepi. Jalan yang kulalui setiap harinya menuju kampus. Melewati jalan bandara menuju Pertigaan Wanggu. Tepat dipertigaan Wanggu arah Lepo-lepo, aku berbelok Kekanan menuju kampus. Masih lengang. Perkiraanku masih jam 7.30. Aku agak pagi hari ini berangkat. Kutahu bahwa Mid akan dimulai tepat jam 8.10.
Kulewati gerbang kampus. Kurang lebih seratus meter kemudian berbelok ke arah kanan. Kemudian memasuki area parkir Fakultas Teknik. Hanya ada dua Mobil dan belasan motor yang parkir pagi ini. Akan ramai jika jam sudah lewat pukul 8.
Diantara hal yang paling mengesankan buatku selama berkuliah di fakultas ini adalah menyaksikan Petugas Kebersihan di pagi hari telah melaksanakan tugas menjaga kebersihan Kampus Kami.
Sepagi itu tapi keadaan kampus sudah terlihat bersih dan rapi.
Kebanyakan Petugas Kebersihan tersebut adalah Ibu-Ibu. Ada juga Bapak-bapak, biasanya menangani pemotongan rumput atau penanaman pohon. Tapi selainnya seperti membersihkan ruang kelas dan bangunan sekitar Fakultas dilakukan Ibu-ibu ini.
Awal-awal kuliah. Semester satu ketika itu. Sering sekali aku sampai di kampis kurang dari jam 7 pagi. Maka aktifitas ibu-ibu ini sering kusaksikan. Bagaimana mereka membersihkan ruangan, menarik tong sampah dan mengosongkannya, membersihkan halaman kampus dari daun-daun.
Pun suatu waktu bersama teman-teman, aku terpaksa “nongkrong” di ruang kelas sampai kisaran jam 10 malam untuk Online. Maka kira-kira jam 8 malam, kami dikagetkan suaran kursi yang ribut di kelas sebelah. Ketika kucek, rupanya ada dua orang, jika tidak salah ingat, yang tengah merapikan kursi-kursi yang sedari pagi acak-acakan dipakai mahasiswa. Dua orang itu ya, petugas Kebersihan tadi.
.
.
.....................
Dedikasi
Okelah sip, dari kisah diatas. Ini poin yang aku ingin belajar banyak darinya.
Yup, arti dari sebuah dedikasi.
Tidak penting apa pekerjaan kita saat ini. Mau mahasiswa, pegawai kantoran, pegawai swasta bahkan seorang Ibu-ibu petugas Kebersihan sekalipun. Maka dedikasi yang seutuhnya layak untuk kita persembahan sesederhana apapun yang bisa kita lakukan. Apalagi jika kita melakukan sesuatu yang dengannya, orang lain banyak merasakan manfaatnya.
“Berikan yang terbaik, Give and Give”
*Duh gak kebayang betapa suramnya fakultasku jika ibu-ibu ikut-ikutan mogok kerja. Seminggu saja, weleh-weleh.
#Lirik_yang_mogok2
-------------------------------------------------------------------------
Jalan masih sepi. Jalan yang kulalui setiap harinya menuju kampus. Melewati jalan bandara menuju Pertigaan Wanggu. Tepat dipertigaan Wanggu arah Lepo-lepo, aku berbelok Kekanan menuju kampus. Masih lengang. Perkiraanku masih jam 7.30. Aku agak pagi hari ini berangkat. Kutahu bahwa Mid akan dimulai tepat jam 8.10.
Kulewati gerbang kampus. Kurang lebih seratus meter kemudian berbelok ke arah kanan. Kemudian memasuki area parkir Fakultas Teknik. Hanya ada dua Mobil dan belasan motor yang parkir pagi ini. Akan ramai jika jam sudah lewat pukul 8.
Diantara hal yang paling mengesankan buatku selama berkuliah di fakultas ini adalah menyaksikan Petugas Kebersihan di pagi hari telah melaksanakan tugas menjaga kebersihan Kampus Kami.
Sepagi itu tapi keadaan kampus sudah terlihat bersih dan rapi.
Kebanyakan Petugas Kebersihan tersebut adalah Ibu-Ibu. Ada juga Bapak-bapak, biasanya menangani pemotongan rumput atau penanaman pohon. Tapi selainnya seperti membersihkan ruang kelas dan bangunan sekitar Fakultas dilakukan Ibu-ibu ini.
Awal-awal kuliah. Semester satu ketika itu. Sering sekali aku sampai di kampis kurang dari jam 7 pagi. Maka aktifitas ibu-ibu ini sering kusaksikan. Bagaimana mereka membersihkan ruangan, menarik tong sampah dan mengosongkannya, membersihkan halaman kampus dari daun-daun.
Pun suatu waktu bersama teman-teman, aku terpaksa “nongkrong” di ruang kelas sampai kisaran jam 10 malam untuk Online. Maka kira-kira jam 8 malam, kami dikagetkan suaran kursi yang ribut di kelas sebelah. Ketika kucek, rupanya ada dua orang, jika tidak salah ingat, yang tengah merapikan kursi-kursi yang sedari pagi acak-acakan dipakai mahasiswa. Dua orang itu ya, petugas Kebersihan tadi.
.
.
.....................
Dedikasi
Okelah sip, dari kisah diatas. Ini poin yang aku ingin belajar banyak darinya.
Yup, arti dari sebuah dedikasi.
Tidak penting apa pekerjaan kita saat ini. Mau mahasiswa, pegawai kantoran, pegawai swasta bahkan seorang Ibu-ibu petugas Kebersihan sekalipun. Maka dedikasi yang seutuhnya layak untuk kita persembahan sesederhana apapun yang bisa kita lakukan. Apalagi jika kita melakukan sesuatu yang dengannya, orang lain banyak merasakan manfaatnya.
“Berikan yang terbaik, Give and Give”
*Duh gak kebayang betapa suramnya fakultasku jika ibu-ibu ikut-ikutan mogok kerja. Seminggu saja, weleh-weleh.
#Lirik_yang_mogok2
Subscribe to:
Posts (Atom)
