Wednesday, 6 September 2017

Hari Kelima Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 | Pantai Bungin Pinungan dan arti kebersamaan

 

Agenda untuk hari kelima adalah melaksanakan program eksplorasi obyek wisata Pulau Towea dan Coastal cleaning.

Pagi-pagi sekali, saat jam baru menunjukkan pukul 6 pagi kami telah berkumpul untuk bersiap menuju Pantai Bungin Pinungan. Yap, itulah nama pantainya. Dari posko kami menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dengan lama perjalanan sekitar sejam. Kami menyusuri pesisir pulau towea ini dengan jalan setapak berbeton yang sudah lama dibangun.

Pantai, sudah lama sekali rasanya diri ini akrab dengan model alam yang satu ini. Sejak tinggal di Desa Tamborasi, pantai menjadi bagian hidupku maksudku karena pantai tamborasi tepat di belakang rumah. Yang membuat aku dan peserta ekspedisi lainnya sangat penasaran dengan pantai ini adalah pantai ini menjadi salah satu latar sebuah Film Nasional, berjudul Jembatan Pensil.

Dan juga ketika hari pertama saat perjalanan menuju Desa Wangkolabu, kami melewati pantai ini walau dari jauh tetapi pemandangan pasir putihnya yang seperti hamparan kertas putih memanjang membuat kami, ya apalagi kalau bukan sangat penasaran.

Tempat ini keren lah, mulai dari jalan setapak menuju pantai, hamparan pasir pesisir, bangunan SD Towea, dan biru hijaunya laut.




Tidak ke pantai namanya kalau tidak berenang. Sungguh, saya tidak berniat sebenarnya buat berenang kesana karena hati yang... eh fisik yang mulai lelah plus gejala flu yang menimpa. Sehingga kesana pun, saya masih menggunakan celana panjang explore yang sungguh berat di air.

Tapi yah, kalau sudah nemu pantai apalagi keren gini, hati sudah khilaf kayaknya untuk segera terjun.

=====
Atas inisiatif Pak Sekdes, kami menulis "ENJ 2017" menggunakan pasir dan kerikil-kerikil pantai dan setelah selesai berfoto disitu, kami melanjutkan program coastal cleaning di sekitar pantai. 

 

Bakar Ikan
Dan yang paling ditunggu, makan siang hehe. Harap dimaklumi, penulis ini penikmat kuliner lokal berbiaya rendah. Jadi, pagi sebelum berangkat Bu Kades memberikan kami sekantong besar Ikan laut yang masih segar-segar. Nah, ikan itu yang kami bakar hari ini. Menu makan siang kali ini boleh sederhana, Ikan bakar yang cukup dibersihkan kemudian dibakar dipadukan dengan sambal bawang tomat garam plus nasi, tetapi kebersamaan, suasana pantai yang asik membuat makan siang terasa nikmat.

Setelah kami makan siang, kami melakukan sholat dzuhur dahulu sebelum terjun ke pantai.

====
Aku mengambil langkah jauh di dermaga, bersiap dengan segala kekuatan dan kemudian melompat setinggi-tingginya dan bumm... amboi nian air lautnya...

Satu pelajaran berharga yang ingin kupetik, tentang arti Kebersamaan. Hidup ini boleh sederhana, tetapi kebersamaannya harus selalu bermakna.

Tuesday, 5 September 2017

Hari Keempat Ekspedisi Nusantara2017 Tim 1 Sultra | Kelas Inspirasi: Jika memang kau berjuang, sejauh apapun jarak bisa diperpendek.

 
Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca hingga hari ke 4 ini.
Seperti yang kusebutkan ditulisan sebelumnya, aku akan ceritakan di tulisan kali ini tentang kegiatan PHBS dan juga Kelas Inspirasi.

Kegiatan dimulai di SDN 1 Towea, kami melakukan sosialisasi cara cuci tangan yang baik dan benar dan juga cara menggosok gigi yang baik dan benar. Jam 8 pagi kami mulai bergerak menuju SD, kami diberikan izin oleh pihak sekolah untuk memulai kegiatan jam 9 pas jam istirahat, sehingga kami datang lebih awal.

Awalnya ada dua kelas dimana kami akan melakukan kegiatan, yaitu kelas 4 dan 5 tetapi ternyata pihak sekolah meminta kelas 6 juga diikutkan. Padahal rapat sebelumnya, kami sudah membagi tim kami menjadi 2, tim 4 dan tim 5. Dengan adanya tambahan kelas 6, mau tidak mau kami harus membagi tim lagi, dan ini membuat persiapan malam sebelumnya menjadi sedikit kacau.

Tetapi, inilah yang dinamakan dinamika kegiatan, ada saja hal-hal di luar prediksi yang bisa terjadi sehingga fleksibilitas sangat diperlukan.


Kelas Inspirasi..
Setelahnya, kami menuju Madrasah Aliyah untuk melakukan kegiatan selanjutnya, Kelas Inspirasi. Kami membagi tim menjadi tiga : tim E, tim N dan tim J. Program ini bentuknya berbagi pengalaman dari para peserta ENJ kepada siswa-siswi MA, baik tentang pendidikan, profesi bahkan motivasi.

Saya sendiri membagikan pengalaman saya mengikuti kegiatan-kegiatan nasional maupun regional. Saya memotivasi mereka, bahwa dengan ikutnya saya di berbagai kegiatan itu saya bisa mengunjungi berbagai kota di Indonesia. Gratis. Prinsipnya satu : Man Jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.

Kelas Inspirasi
Di kelas aku meminta mereka meneriakkan prinsip ini. Sekeras-kerasnya. Hingga kata Si Hamka, hai anak farmasi, mereka di kelas sebelah harus “hening cipta” dulu, membiarkan sorakan semangat berlalu. Semangat-semangat. Baakarrrrrr Semangatnya...

Ada juga yang berbagi inspirasi tentang pengalaman menjadi Relawan, relawan ENJ misal. Datang dari berbagai kota, tidak hanya Kendari. Membuat ENJ Sultra 2017 lebih berwarna. Teman-teman dari luar kota menceritakan perjuangan mereka hingga bisa sampai ke sini. Jarak dan kesibukan dikondisikan demi sebuah pengabdian di daerah pesisir. Merinding saya menuliskannya.

Saya selalu terharu dengan mereka yang mau, ikhlas meninggalkan Zona nyamannya untuk sebuah pengabdian. Saya ingat sepupu yang sekarang di Kalimantan, tahun lalu dia mengabdi di Papua. Bertugas sebagai relawan pengadaan listrik tenaga surya di Pedalaman. Duh, perjuangan.

Untuk sore harinya, kami mengerjakan batako untuk artificial reef. Batako persegi empat dengan dua lubang di tengahnya itu sedianya akan kami pasang di pantai Bungin Pinungan. Akan kuceritakan keseruannya di artikel selanjutnya. Keep Reading yah.



Sunday, 3 September 2017

Hari Ketiga Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Pengambilan Bibit Mangrove : Darinya kita tahu ada Cinta dalam bentuk yang lain yaitu Melepaskan

 
Hari Ketiga Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Pengambilan Bibit Mangrove : Darinya kita tahu ada Cinta dalam bentuk yang lain yaitu Melepaskan

Subuh kedua di desa Wangkolabu dan hari ketiga telah berada kami disini. Selepas subuh aku memilih keliling sekitar dermaga Wangkolabu, suasana sebenarnya masih gelap tetapi pendar-pendar cahaya dari lampu rumah warga membuatku tertarik menyaksikannya dari arah dermaga.

Rutinitas pagi itu belumlah terlalu ramai, hanya sesekali ku jumpai pak Nelayan yang sedang membenarkan tali ikat perahunya. Dinginnya malam pun masih menusuk sebenarnya, tersebab angin darat yang masih bertiup kencang ke arah laut.

Aku benar-benar menikmati pagi di ujung dermaga ini, sendiri, hening bersama kecipak ombak yang membentur dinding dermaga. Amboi nian. Sebelum pagi begitu terang, aku kembali ke rumah pak Kades, pagi-pagi kami harus kembali melaksanakan agenda yang telah kami susun bersama.

Seperti dua pagi sebelumnya, Wana ataupun Dian, akan menanyai kami yang tinggal serumah mau dibuatkan minuman apa. Aku sendiri sering menjawab “ngikut yang lain”, maksudnya aku akan ikut saja mereka yang sudah pesan duluan. Kadang Energ*n, kadang juga Teh. Disitulah kami memulai obrolan pagi, walau terkadang aku lebih banyak diam. Asyik masyuk dengan pembahasan ke empat orang ini. Suasana ini akan aku rindukan. Anytime, Anywhere.


Pagi sekitar pukul 8, kami beranjak menuju SD N 1 Towea. Agenda kami adalah melakukan koordinasi dan mohon izin untuk melakukan kegiatan di Sekolah ini. Kami diterima dengan senyum hangat nan bersahabat oleh Bapak Kepala Sekolah. Halo pak, semoga sehat selalu.
 

Hari Ketiga Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Pengambilan Bibit Mangrove : Darinya kita tahu ada Cinta dalam bentuk yang lain yaitu Melepaskan
Kami diajak masuk ke dalam kantor, awalnya kami mengira hanya perwakilan saja yang diajak, Koordinator ataupun PJ program, tetapi kami semua dipanggil masuk. Tak ayal, ruang itu menjadi ramai pun dengan kursi-kursi yang terseret dan dikondisikan menampung kami semua. Langsung saja kami sampaikan niat kami, dan meminta jadwal kepada Pak Kepsek.

Hari itu, telah disepakati kami akan melaksanakan program sekitar jam 9 sampai jam 11 pagi di keesokan harinya. Program yang akan kami laksanakan adalah.... ah besok saja yah di artikel selanjutnya kuceritakan. :P *paling senang bikin orang penasaran*

Sebelum Dzuhur kami bergegas ke Madrasah Aliyah Al-Asif guna meminta izin untuk melaksanakan program Kelas Inspirasi disana keesokan harinya. Di artikel selanjutnya akan kuceritakan keseruan kelas ini. *senyum tertahan jaga wibawa*



Filosofi pengambilan Bibit Mangrove

Di sore harinya, kami melakukan kegiatan pengambilan bibit mangrove. Cara ini harus kami lakukan, setelah selama di Kendari kami tidak mendapatkan bantuan bibit yang sudah jadi sehingga kami harus buat sendiri. Tetapi ada hikmah yang terselubung, kami jadi tahu cara mengbibitkan mangrove, karakteristik mangrove yang layak ditanam dan cara mencabut mangrove dari tempatnya semula.



Dan juga dari aktivitas pengambilan bibit mangrove ini saya menemukan sebuah filosofi atau saya menyebutnya “Filosofi Bibit Mangrove”. Kita tahu bahwa anak mangrove, katakanlah seperti itu, hidup tidak jauh atau berdekatan dengan induknya. Tumbuh begitu dekat dan penuh sesak di kelamaan. Sehingga dibutuhkan tempat baru bagi anak ini untuk bisa lebih berkembang. Di tempat baru. Tempat yang lebih layak. Sang Induk harus rela melepaskannya, karena ini untuk kebaikan bukan hanya untuk anaknya tapi untuk semua alam.

Dari situ saya belajar lagi bahwa ada Cinta yang dapat kita pelajari dalam bentuk yang lain yaitu melepaskan. Yah, terkadang melepaskan adalah pilihan yang lebih tepat jika kau tahu di tempat lain ada yang lebih pantas, lebih baik untuk dia dapat tumbuh, bersemai dalam hidup yang lebih baik.
Seperti anak mangrove ini, dengan tempat yang sekarang, ia akan lebih berfungsi lebih baik. Menjadikan perannya lebih baik dari sebelumnya.

Ah, itulah Filosofi Bibit Mangrove. Tentang melepaskan. Tentang Cinta yang tak harus memiliki dan tentu saja, tentang perpisahan.

Anyway, berbicara tentang perpisahan izinkan kukutip nasihat indah dari Ustad Aan Chandra, begini kira-kira kata beliau:
Perpisahan itu bukan soal jarak yang jauh, juga bukan karena ditinggal pergi.
Bahkan kematian bukanlah sebuah perpisahan, sebab di akhirat nanti kita akan bertemu lagi.
Perpisahan yang sesungguhnya adalah ketika satu diantara kita masuk surga, sedangkan yang lainnya terjerembab ke neraka”


Demikianlah hari ketiga ini kututup dengan sebuah filosofi manis, yang sejatinya layak untuk kita renungkan dan pahami. Menjadi setitik pencerahan buatmu dan diriku.

Ah, maafkan kami wahai Induk Mangrove..
Untukmu kutitipkan syair wahai Mangrove, yang kutahu tersayat di dalam hatimu.

Dalam Syairnya, Al-Qadhi Abul Majd berkata:
Telah kulalui berbagai musibah (dalam hidupku), namun air mataku tak berderai seperti derainya saat hari berpisah


Hari Ketiga Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Pengambilan Bibit Mangrove : Darinya kita tahu ada Cinta dalam bentuk yang lain yaitu Melepaskan
Foto bersama Sahabat Mangrove Wangkolabu


Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea

 
Untuk hari kedua, agenda kami adalah melakukan survei lapangan di Dua Desa yakni Desa Wangkolabu dan tetangganya, Desa Lakarama.

Kedua desa ini, dahulunya merupakan satu desa yang dimekarkan menjadi beberapa desa. Kami memulai perjalanan dari rumah Pak Sekdes, lokasi pertama yang kami kunjungi adalah pasar tradisional. Pasar ini hanya beroperasi dua minggu sekali, yaitu setiap hari kamis dan minggu. Sungguh berbeda dengan perkotaan yang hampir tiap hari. Untungnya hal ini tidak membuat culture shock peserta ENJ yang hampir semuanya berasal dari Kota seperti Kendari, Makassar, dan Medan.

Setelah dari pasar tradisional ini, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju satu-satunya SD di pulau ini, SD Negeri 1 Towea. Gedung sekolah sudah sangat memadai dalam artian bangunan yang permanen dan terdiri semua level kelas dari kelas 1 sampai kelas 6, bahkan beberapa kelas terbagi lagi menjadi kelas A dan B. 

Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea
 SDN 1 Towea

Setelah itu kami menuju salah satu situs sejarah di Pulau ini, sebuah rumah yang dahulunya digunakan tentara-tentara Belanda. Pada desainnya, terdapat sentuhan gaya arsitektur Belanda seperti daun jendela, penataan kamar dan juga WC. Sayangnya, bangunan ini tidak terawat, sepi dan muram yang menambah kesan mistisnya. Entah kenapa menulis kata "mistis"nya saya jadi tersenyum-senyum.
Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea
Rumah Peninggalan Belanda
Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea
Befoto bareng


Sebelum memasuki waktu dzuhur, kami mengunjungi salah satu bukit yang letaknya tidak jauh dari lokasi tempat atau area pengambilan bibit dan penanaman mangrove. Jadi, bisa dikatakan dari bukit ini kami meninjau lokasi yang akan kami gunakan untuk melakukan pengambilan bibit mangrove dan sekaligus tempat penanaman mangrove.
Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea
Disana...


Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea
Bersama Sahabat Mangrove



Selepas dzuhur, kami telah ditunggu oleh pak Kades untuk santap siang bersama. Menunya ikan bakar khas Pulau Towea. Nyamm.. Ikan katamba' yang dibakar menggunakan bumbu racikan lokal seperti kunyit, garam, jeruk nipis ditambah lagi sambel tomat.



Nah di sore hari, aku diajak anak-anak untuk berperahu menuju karamba'. Karamba ini, modelnya seperti rumah apung yang disitu terdapat kolam pembudidayan ikan kerapu, lobster. Karamba ini diletakkan di tengah laut.
Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea

Spotnya asik buat berfoto, dan kebetulan hari ini saya mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung proses panen.
Sayangnya dokumentasi saat berada di atas Karamba’ ini raib, setelah Smartphone-nya Fuad yang kecebur ke laut. Dan di saat bersamaan saya juga ikut “kepeleset” ke laut padahal lagi santai-santainya di perahu.
Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea
Karamba': Tempat Pembudidayaan Lobster dan Ikan Kerapu

Kelas Malam Sahabat Pesisir

Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea
Bacalah
Selepas magrib, program pertama yang kami jalankan di Desa ini adalah Malam Sahabat Pesisir, dimana program rutin ini dilakukan selepas Magrib hingga Isya. Konsepnya sederhana, kami mengajarkan anak-anak pulau Towea Iqra dan Tahsin Al-Qur’an. Saya sendiri mengampuh kelas Tahsin, dimana tugas saya sebenarnya lebih mudah dibanding teman-teman yang lain yang mengampuh kelas Iqra. Mudahnya adalah, walaupun saya hanya membina 5-7 anak, mereka sudah bisa membaca hanya perlu menambahkan materi “Tempat Keluarnya Huruf” atau Mahraj Huruf. Adapun tajwid, saya hanya ajar sekilas tentang hukum Qalqalah, Mad, dan Idgam.

Cara saya mengajar kepada mereka adalah, saya akan membaca ayat per ayat dan mereka mengulangi bacaan saya sambil saya menyimak dan memperbaiki bacaan mereka. Setelah itu kami akan mentaddaburi kandungannya.

“Ayo adik-adik siapa yang tahu dalil langit itu terdiri tujuh lapisan?”
“An-Naba’ ayat 12” jawab mereka serempak
“Yang menurunkan hujan siapa?”
“Allah...”
“Dalilnya apa ayo?”
Mereka semua diam, saling melirik.
“Ayat 14 kak Imam” jawab Cece
“Makasih yah Cece, benaar...”

Cece ini salah satu adik di kelas Tahsin, yang kemudian hari jadi juara 2 lomba hapalan Al-Qur’an dalam kegiatan kami. Nantikan ceritanya. Sampai program ini selesai kami telah tahsin dan taddabur mulai dari An-Naba’ hingga Al-Gasyiyah. Target awalnya adalah seluruh juz Amma sebenarnya. Tapi tak apa, InsyaAllah kita lanjutkan di kesempatan lain yah adik-adik. :)

Begitulah kami menutup hari ini, MasyaAllah. Mata saya berkaca-kaca menulis ini.
Anak-anak Indonesia itu cerdas, hanya kesempatan untuk mendapatkan fasilitas yang baik, metode yang baik dan pengajar yang baik saja yang kurang. So, teman-teman semua, kamu yang membaca postingan ini.

Perhatikan, luangkanlah waktu dan tenagamu untuk Anak Indonesia. Mereka butuh Ilmu kamu semua. Indonesia akan menjadi baik, kalau orang baik itu bergerak membaikkan, bukan hanya diam hampa membisu dalam nestapa keluhan tak berujung.

Dan juga, buat semua tim. Terima kasih... Terima kasih kalian semua sudah istiqomah hingga program ini dapat berjalan hari pertama hingga hari terakhir program ini. Semoga ini menjadi timbangan amal kebaikan kita semua.

Dibawah ini dokumentasi Malam Sahabat Pesisir
Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea

Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea


Hari Kedua Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra | Malam Sahabat pesisir: Serpihan Cinta yang terserak di Pulau Towea



Saturday, 2 September 2017

Hari Pertama Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 Tim 1 Sultra - Kisahku di Pulau Towea dimulai hari ini.

 

Terminal Pasar Baruga menjadi titik pertemuan seluruh tim 1 Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 rute Sulawesi Tenggara. Pagi pun masih berembun, aktifitas pedagang sudah nampak ramai di terminal yang sisi lainnya adalah pasar.

Sesuai kesepakatan pada rapat malam sebelumnya, kami akan memulai perjalanan pengabdian kami hari itu dengan menggunakan bus DAMRI menuju pelabuhan penyebrangan.



......................... 
aku berjanji, entah kapan, aku akan mengabdi lagi ke daerah-daerah pesisir. Apakah dengan ENJ atau tidak, entahlah. Biarkan waktu yang menjawab...

Setahun lalu, aku menuliskan atau mungkin hanya niatan di hati untuk kembali terjun ke masyarakat pesisir. Yah setahun lalu, ketika kuhempaskan punggung ini dibalik kelelahan fisik yang mendera kala itu. Selepas melaksanakan program, hari itu aku menyendiri, memandang ke birunya laut Wakatobi di sebuah Gazebo milik warga.

Aku coba menghitung peluang, dan mungkin juga kecemasan, untuk sebuah rencana mengikuti lagi kegiatan Ekspedisi ini. Kecemasan terbesarku adalah bagaimana jika tahun depan (2017), aku telah tersibukkan dengan rutinitas lainnya? Masih bisakah kusiapkan waktu untuk ikut Ekspedisi ini lagi?

...................
Hari ini, hari pertama Ekspedisi Nusantara Jaya 2017, keharuan itu kembali membuncah. Aku rindu, kerinduan ini membuatku tidak sabar untuk tiba di Pulau Towea, pulau tujuan pengabdian tahun ini. Aku memilih duduk di sisi depan kapal. Sungguh aku tak sabar. Selepas kapal berlabuh ke Dermaga Wangkolabu. Aku menjadi orang kedua yang segera turun dari kapal dan menjejakkan kaki disana. Ah, mengapa bukan yang pertama yah? *Senyum-senyum nyess..*

Baiklah, mungkin sudah takdirnya *senyum*.

Hari ini akan kuceritakan perjalanan kami hingga tiba disini. Iyaa disini. Desa Wangkolabu, Kecamatan Towea, Kabupaten Muna. Perjalanan dimulai dari Terminal Baruga Kendari (mentioned before) sekitar pukul 7 pagi. Menggunakan bus DAMRI, pertama-tama kami menuju pelabuhan penyebrangan Torobulu. Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Then, kami menggunakan kapal penyebrangan menuju pelabuhan Tampo, pelabuhan ini terletak di sisi Pulau Muna. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam sehingga kami tiba jam 12 siang.

... bus DAMRI
Bus DAMRI ini menurutku merakyat sekali, harga yang ditetapkan antara KENDARI – TOROBULU tidaklah begitu mahal, maka wajar saja moda transportasi satu ini menjadi andalan utama buat masyarakat. Tetapi kamu harus membiasakan diri berdesak-desakkan dengan barang-barang bawaan para penumpang karena sampai koridor dalam bus juga dipenuhi oleh barang, aku bahkan sempat duduk disana, di atas sebuah kaleng cat hingga pindah duduk di depan di samping pak Supir. Aku maju duduk di sana setelah kelakar pak supir yang bilang
ayo siapa yang mau duduk di depan, biar cepat sampai di Tampo
kok bisa pak?” tanya kami
yah kan kalo duduk di depan berarti cepat sampai dibanding penumpang belakang” tukas pak sopir. Kami diam, kemudian mencerna dan sejurus kemudian tawa kami ledak terkekeh sambil yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala tersenyum.

Di atas kapal, aku lebih memilih menikmati pemandangan sepanjang perjalanan kami. Ombaknya sangat tenang, apalagi cuaca saat itu sangat cerah. Mungkin ini tanda alam bahwa apa yang akan kami lakukan direstui oleh sang Pencipta.

Tiba di pelabuhan Tampo, kami melanjutkan kapal kayu yang berukuran lebih kecil. Muatlah untuk 20 orang. Masyarakat disini menyebutnya Bodi. Kami menggunakan bodi warga setempat yang sejak 2 jam sebelum kami tiba telah menunggu di pelabuhan. Biayanya sendiri sebesar 200.000 per bodi. 

Sepanjang perjalanan, aku sibuk mengira-ngira seperti apa Pulau Towea ini, seperti apa desa Wangkolabu. Setiap ada dermaga atau perkampungan pasti kami bertanya, apakah itu desa Wangkolabu. Mendekati waktu Dzuhur, akhirnya kami tiba di dermaga desa Wangkolabu yang disambut Bapak Sekretaris Desa Wangkolabu, Pak Masling. Pak Sekdes yang kemudian hari banyak berperan dan membantu dalam setiap program kami, akan aku uraikan di artikel lainnya. InsyaAllah.

Kami juga disambut anak-anak pulau Towea yang dengan ikhlas membantu kami. Hei kalian berdua di depan, apa kabar Ruli n Adit? *senyum*
 


 
 
 
Disambut oleh Bapak Kepala Desa beserta jajaran, menandai awal pengabdian kami di Desa Wangkolabu.



 
Penyerahan secara simbolis, bantuan buku untuk teras baca Pulau Towea







Untuk tempat tinggal, tim kami dibagi 2. Sebagian tinggal di rumah pak Kades dan sebagian lainnya di rumah Pak Sekdes. Aku, Agum, Ender, Dian dan Wana tinggal di rumah pak Kades.


Suasana malam pertama di rumah pak Sekdes yang didaulat sebagai posko Kami. Makasih Pak. Anak-anak di desa ini begitu antusias datang ke kami, walau sekedar belajar ringan materi pelajaran mereka di sekolah. Aku masih ingat malam pertama itu aku membantu Melisa, siswi kelas 5 SD, untuk merangkum buku IPS miliknya. Sungguh menyenangkan mendapat sambutan ini.




Selebihnya kami menghabiskan malam pertam ini dengan obrolan ringan tentang desa ini, program kami dan tentu saja, rencana esok hari. Selepas itu kami yang tinggal di rumah pak Kades, harus pamit. Sedangkan teman-teman yang lain tetap melanjutkan obrolan mereka.



Note Anggota Tim:
Agum
Wana
Dian
Ender
Gina
Zahwan
Rani
Hamka
Fuad
Diman
Amin
Iyan
Mulkian







Wednesday, 26 July 2017

Segera daftar pelatihan BLK Kendari. Selain Ilmu, kamu dapat tunjangan transportasi dan konsumsi juga selama 30 hari lebih

 
Mau belajar tentang perhotelan?
Mau belajar desain bangunan?
Mau belajar  Instalasi Penerangan?
Atau belajar 5 keahlian lainnya?

Khusus kamu anak muda kendari, mulai dari tanggal 26 Juli sampai dengan 2 Agustus 2017Balai Latihan Kerja Kota Kendari membuka pendaftaran pelatihan 8 bidang kejuruan, tentu saja gratis.

Apa saja 8 kejuruan tersebut?

  • Manufaktur / Operator Mesin Bubut
  • Sepeda Motor
  • Elektronika
  • Pengolahan Hasil Pertanian
  • Perhotelan
  • Bordir / Menyulam
  • Instalasi Penerangan
  • Gambar Bangunan / Autocad

Lama belajar?

Mulai dari 30 hari - 65 hari tergantung kejuruan yang kamu pilih.

Uang transportasi dan Uang Konsumsi?

Tenang, semuanya ditanggung. Setiap peserta akan mendapatkan uang transportasi Rp 15.000 per hari dan makan siang.

Syaratnya apa?

  • Foto copy Ijazah Terakhir 2 Lembar
  • Foto copy KTP / Kartu Keluarga 2 Lembar
  • Pas Foto terbaru ukuran 3x4  sebanyak 3 Lembar
  • Map Snelhelter 1 Lembar

Dimana tempat pendaftarannya?

Kios 3 lt 1 BLK Kendari, jalan Mayjen D.I Panjaitan No 226 (Depan Polres Kendari, Lepo-lepo)
Cp: 082234820001



Tuesday, 25 July 2017

Google Translate gunakan Neural machine translation. Lebih mengalir dan alami hasil terjemahannya.

 

Setengah dari halaman web di dunia menggunakan Bahasa Inggris, tetapi kurang dari 15 populasi global yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa Utama atau sekunder di negara mereka. Makanya tidak mengejutkan apabila perambaan Chrome’s built-in Translate secara fungsional menjadi fitur paling disukai. Setiap hari pengguna Chrome menerjemahkan lebih dari 150 halaman web dengan hanya sekali klik atau membuka tap.


Tahun lalu, Google Translate memperkenalkan Neural machine translation yang menggunakan deep neural networks untuk menerjemahkan keseluruhan kalimat, bukan hanya frase, sehingga dapat diketahui terjemahan yang paling relevan. Tim pengembang sampai saat ini telah melakukan perbaikan pada Chrome’s built-in Translate secara bertahap untuk menghasilkan hasil yang lebih berkualitas, terjemahan yang lebih akurat dan juga mudah untuk dibaca.


Saat ini, Neural machine translation akan digunakan untuk menerjemah ke lebih dari sembilan bahasa. Neural machine translation akan digunakan untuk sebagian besar halaman dari bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia atau pun sebaliknya dan juga delapan bahasa lokal India : Bengali, Gujarati, Kannada, Malayalam, Marathi, Punjabi, Tamil dan Telugu.

Dari Kiri : Halaman web  dalam bahasa Indonesia; Halaman yang diterjemah ke bahasa Inggris tanpa neural machine translation; Halaman yang diterjemah ke Bahasa Inggris menggunakan neural machine translation. Seperti yang dapat kita lihat, penerjemahan setelah menggunakan neural machine translation lebih mengalir dan natural.


Penambahan sembilan bahasa ini melengkapi bahasa lainnya yang telah diaktifkan menggunakan Neural machine translation di Chrome yang sejauh ini berjumlah lebih dari 20 bahasa. Kamu bisa menerjemah dari dan ke Inggris ke China, Prancis, German, Hebrew, Hindi, Jepang, Korea, Portugis, Thai, Turki, Vietnam dan Spanyol.


Pengembang Google Translate terus berusaha agar ke depannya lebih banyak bahasa yang dapat diterjemahkan memanfaatkan kemampuan Neural machine translation.



Semoga bermanfaat.





















Sumber :  Blog.google.com, translate.google.com